skip to main | skip to sidebar

Pages

Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

Ulang Tahun Presiden Diperingati Sederhana

0 comments
Ulang tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Jumat (9/9) akan diperingati secara sederhana seperti kelaziman tahun-tahun sebelumnya ditandai dengan acara syukuran kecil yang dihadiri oleh keluarga. Juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan hingga Kamis (8/9) belum ada informasi acara khusus peringatan ulang tahun kepala negara yang ke-62 tersebut. "Sementara saya belum mendapat informasi biasanya memang ada syukuran kecil yang sifatnya sangat keluarga," kata Julian. Namun demikian, Julian mengatakan pada Jumat besok Presiden tetap bekerja seperti biasa dan dimungkinkan ada agenda-agenda kegiatan seperti biasa. "Pagi tetap ada acara dan kegiatan seperti biasa, ada acara internal juga," katanya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lahir di Pacitan pada 9 September 1949. Presiden Yudhoyono merupakan anak tunggal dari pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. sumber : http://id.berita.yahoo.com/ulang-tahun-presiden-diperingati-sederhana-083453963.html

Minggu, 03 April 2011

Hal Kecil yang Menarik dari Para Presiden RI

0 comments
Rachmawati Soekarnoputri bercerita, salah satu yang cukup berkesan dari ayahnya, Presiden Soekarno, adalah perhatiannya apabila anak-anaknya sedang sakit. ”Bung Karno bisa meninggalkan acara penting apabila salah satu anaknya ada yang sedang sakit,” ujar Rachmawati yang dilahirkan di Istana Merdeka tahun 1953.



Menurut Rachmawati, putri ketiga pasangan Bung Karno dan Fatmawati, ketika ia sedang sakit, presiden pertama RI itu mendatanginya dan membelai-belai rambutnya. ”Bapak datang ke kamar saya dan menawarkan makanan apa yang paling saya sukai,” ujar Rachma.

Maka, ketika Bung Karno dikarantina di Batutulis, Bogor, 1968, Rachmawati merasa kasihan kepada ayahnya yang sedang menderita sakit. Rachma datang ke rumah Presiden Soeharto (waktu itu) di Jalan Cendana, Jakarta. Rachma minta agar Bung Karno dipindahkan ke Jakarta. Pak Harto saat itu setuju dan berjanji akan mengatur kepindahan Bung Karno ke Jakarta. Sikap Pak Harto itu membuat air mata Rachma berlinang. ”Ya, waktu itu saya datang ke Jalan Cendana,” kata Rachma.

Pohon kayu manis



Salah satu dari sejuta hal kecil menarik dari Pak Harto adalah apabila ia sedang ada di wilayah pertanian dan peternakan Tapos, Bogor, Jawa Barat. Apabila di tempat yang dingin ini, Soeharto tampak santai sekali. Para tamunya yang datang ke tempat ini diberi hidangan arem-arem yang dilapisi telur dadar (omelet).

Sambil berjalan keliling tempat pertanian dan peternakan yang dibangun pada 1974 itu, Pak Harto memperkenalkan sapi-sapi, kambing-kambing, serta rumput gajah. Tak pernah lupa Pak Harto mengatakan, ”Di sana itu ada deretan pohon-pohon kayu manis. Kalau daun mudanya sedang tumbuh, warnanya kemerah-merahan, indah sekali.”



Sementara itu, Presiden BJ Habibie sering bercerita kepada wartawan tentang kegiatannya berenang sebelum berangkat ke Istana Kepresidenan. Ia juga sering melantunkan lagu ”Widuri” dalam berbagai kesempatan, termasuk acara di Istana Negara.

Kisah Pak Jaya



Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah sosok menarik bagi pengemudi resminya, yakni Pak Jaya. Pak Jaya juga pernah menjadi pengemudi resmi para wakil presiden pada masa Orde Baru.

Ketika Gus Dur menjadi presiden, Pak Jaya selalu berdialog di dalam mobil. Canda dan tawa adalah suasana sehari-hari dalam pertemuan Pak Jaya sebagai sopir resmi presiden dengan orang nomor satu Indonesia itu. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, ia hanya duduk dan menghadap ke depan atau melihat kaca spion mobil. Gus Dur begitu tahu nama gang-gang di kampung Pak Jaya.

Maka, ketika Gus Dur dilengserkan, ia protes dengan menyembunyikan mobil kepresidenan ke suatu tempat di kompleks istana yang tidak diketahui orang lain. ”Kasihan, Gus Dur,” ujar Pak Jaya.



Presiden Megawati Soekarnoputri punya kebiasaan kecil lain. Ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, Mega berkunjung secara resmi ke Singapura. Di suatu tempat, ia mengundang wartawan untuk duduk di dekatnya. Di meja, di depan Mega, tergeletak piring kecil berisi beberapa gelintir kencur. Sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal, Mega memasukkan butiran-butiran kencur itu ke dalam mulutnya satu per satu, lalu dikunyahnya. ”Kalau saya batuk, saya makan ini,” ujarnya.



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam suatu acara jumpa pers menjelang akhir tahun di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor, mengatakan kepada para wartawan, ”Pohon rambutan saya sedang berbuah, manis sekali.” Kemudian, ia meminta salah seorang pembantunya mengambil rambutan dan kemudian dihidangkan kepada para wartawan.

sumber: http://semut-angkrang.blogspot.com/

Rabu, 23 Februari 2011

5 Pemimpin Negara Terlama di Dunia

0 comments
Muhammad Husni Sayyid Mubarrak, nama lengkap Husni Mubarrak, adalah Presiden Mesir dalam 30 tahun terakhir sejak pertama dilantik pada 14 Oktober 1981.  Namun ternyata, ada pemimpin (raja/presiden) di dunia yang lebih lama berkuasa darinya!

Berikut 10 pemimpin terlama di dunia versi www.telegraph.co.uk:


1. Pemimpin Kerajaan Thailand, Bhumibol Adulyadej (Tanggal lahir: 5 Desember 1927)


Masa kekuasaan : 64 tahun
Periode kekuasaan : 9 Juni 1946 s.d sekarang
Rama IX, nama bangsawan Raja Bhumibol, yang sebenarnya lahir di Massachusetts, Amerika Serikat, masih tercatat sebagai pemimpin negara paling lama berkuasa di dunia. Meski lama memimpin, Raja Bhumibol sangat populer, dicintai rakyatnya, dan masih memiliki pengaruah kuat dalam peta politik di negaranya.


2. Pemimpin Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II (Tanggal lahir: 21 April 1926)


Masa kekuasaan : 59 tahun
Periode kekuasaan : 6 Februari 1952 s.d sekarang
Masa kekuasaannya telah menemui perubahan dunia bidang sosial, politik, teknologi, dst. Mulai dari era Perang Dingin, perdana menteri legendaris Margareth Thatcher, hingga kematian Putri Diana. Ratu Elizabeth merupakan pemegang ketiga tahta Kerajaan Inggris, yang memiliki kekuasaan politik secara de jure dan sangat populer di mata rakyatnya maupun dunia.

3. Pemimpin Kerajaan Brunei, Sultan Hassanal Bolkiah (Tanggal lahir: 5 Oktober, 1967)


Masa kekuasaan : 43 tahun
Periode kekuasaan : 5 Oktober 1967 s.d sekarang
Sultan Bolkiah bukan hanya raja, tapi juga kepala negara dengan otoritas penuh. Sekalipun ada senat di negara kaya ini, namun kekuasan politik berada di tangannya. Raja satu ini peroleh doctor honoris causa bergengsi dari Universitas Oxpord. Dikenal sebagai pecinta mobil mewah, dilaporkan memiliki koleksi mobil mewah seharga lebih dari US$4 milyar!

4. Presiden Libya, Kolonel Kaddafi (Tanggal lahir: 7 Juni 1942)


Masa kekuasaan : 41 tahun
Periode kekuasaan : 1 September 1969 s.d sekarang
Setelah melakukan suksesi berdarah kepada presiden Libya terdahulu, Raja Idris I, lebih dari 40 tahun lalu, Kolonel Kadafi langsung menerapkan kebijakan berani yakni politik anti barat. Karenanya, setiap ada tindakan teroris, namanya kerap disangkutpautkan pemimpin Barat. Namun dalam dekade terakhir, sikapnya cenderung melunak, terbukti dengan pengakuannya untuk ikut bertanggung jawab pada kasus pengeboman Lockerbie.

5. Pemimpin Kerajaan Denmark, Ratu Margrethe II (Tanggal lahir: 16 April 1940)


Masa kekuasaan : 39 tahun
Periode kekuasaan : 14 Januari 1972 s.d sekarang
Ratu Margrethe adalah ratu kedua dalam Kerajaan Denmark, yang memiliki kekuasan politik terbatas seperti Ratu Elizabeth. Yang menarik adalah keahliannya dalam melukis dan menerjemahkan bahasa, sekaligus dikenal sebagai ratu yang hobi merokok!

sumber : http://bisnis-jabar.com/

Senin, 21 Februari 2011

Daftar Nama-Nama Presiden Republik Indonesia

0 comments
NoPresidenMulai menjabatSelesai menjabatPartaiWakil Presiden
1SoekarnoSoekarno.jpg18 Agustus 194519 Desember 1948PNIMohammad Hatta
Syafruddin Prawiranegara
(Ketua PDRI)
Sjafrudin prawiranegara.jpg19 Desember 194813 Juli 1949NonpartisanLowong
Soekarno13 Juli 194927 Desember 1949PNIMohammad Hatta
Soekarno
(Presiden RIS)
27 Desember 194915 Agustus 1950PNILowong
Assaat
(Pemangku Sementara
Jabatan Presiden RI)
Assaat PYO.jpgNonpartisan
Soekarno15 Agustus 19501 Desember 1956PNIMohammad Hatta
1 Desember 195622 Februari 1967Lowong
2Soeharto
(Pejabat Presiden)
President Suharto, 1993.jpg22 Februari 196727 Maret 1968Golkar
Soeharto27 Maret 196824 Maret 1973
24 Maret 197323 Maret 1978Hamengkubuwana IX
23 Maret 197811 Maret 1983Adam Malik
11 Maret 198311 Maret 1988Umar Wirahadikusumah
11 Maret 198811 Maret 1993Soedharmono
11 Maret 199310 Maret 1998Try Sutrisno
10 Maret 199821 Mei 1998Baharuddin Jusuf Habibie
3Baharuddin Jusuf HabibieBacharuddin Jusuf Habibie official portrait.jpg21 Mei 199820 Oktober 1999GolkarLowong
4Abdurrahman WahidPresident Abdurrahman Wahid - Indonesia.jpg20 Oktober 199923 Juli 2001PKBMegawati Soekarnoputri
5Megawati SoekarnoputriPresident Megawati Sukarnoputri - Indonesia.jpg23 Juli 200120 Oktober 2004PDIPHamzah Haz
6Susilo Bambang YudhoyonoSusilo Bambang Yudhoyono official presidential portrait 2009.jpg20 Oktober 200420 Oktober 2009Partai DemokratMuhammad Jusuf Kalla
20 Oktober 2009Sedang menjabatBoediono
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Presiden_Indonesia

Minggu, 23 Januari 2011

Memilih Pemimpin Yang Ideal

0 comments
Oleh: Zamhasari Jamil

DI SUATU siang yang sangat cerah dan panas, seorang rekanita saya, Disa Ayudian P. mengirim sms ke alfibret saya dalam bahasa asing yang dalam bahasa Indonesia artinya begini, “Beberapa malam terakhir ini aku menjadi orang yang sulit tidur dan pada siang harinya aku lebih banyak mengurung diri di rumah. Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, apakah aku ini sedang jatuh cinta?” Tuhan menjawab, “Idiot, sekarang ini cuacanya sangat panas.” Ooo, begitu, gumamku.”

Cuaca yang sangat panas ini bukan hanya membuat saya menjadi sulit tidur dan malas bepergian seperti halnya rekanita yang mengirimkan sms tersebut, tapi juga banyak mengubah aktivitas saya sehari-hari, terutama membaca buku dan duduk santai di kantin Aligarh Muslim University (AMU), Aligarh. Seperti biasa, ruang baca perpustakaan utama AMU yang mampu menampung ribuan pelajar itu penuh selama 24 jam, apalagi pada masa-masa ujian tahunan ini.

Karena di ruang baca perpustakaan utama AMU itu tak menyisakan satu tempat dudukpun, maka saya hijrah ke ruang baca fakultas teologi, AMU. Sengaja saya memilih ruang baca fakultas teologi ini, karena di sini saya bisa juga meminjam dan membaca buku-buku keagamaan, seperti “Al-fiqhu al-Islami wa adillatuhu”, sebuah kitab fiqh kontemporer terdiri dari sebelas jilid yang disusun oleh Dr. Wahbah Zuhaili. Sedangkan di ruang baca perpustakaan departemen ilmu politik hanya memuat buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan politik, hukum internasional, hak azasi manusia, ketatanegaraan, filsafat politik dan sejenisnya.

Malam ini, sambil menikmati hembusan-hembusan lembut semilir angin malam diiringi putaran kaset dakwah KH. Zainuddin MZ, saya ingin merajut kata merangkai kalimat, menulis sebuah risalah yang saya sendiri belum bisa menentukan dimanakah risalah ini akan berakhir. Yang jelas, saya akan terus merajut kata-kata ini untuk dirangkai menjadi untaian-untaian kalimat dengan harapan semoga risalah kecil ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Nah, ketika saya sedang asik mengikuti irama alunan jari-jemari saya di atas keyboard komputer ini, saya teringat dengan pesan Rasulullah SAW yang berbunyi begini, “Idza wusida al-amru ila ghairi ahlihi fantahziri as-sa’atu.” Artinya, “Apabila suatu urusan (termasuk negara, institusi, organisasi) diurus oleh orang yang bukan ahlinya (tidak profesional), maka tunggulah kehancurannya.” Hadist Rasulullah SAW tersebut tentu saja sangat erat kaitannya dengan mereka yang ingin memegang suatu jabatan tertentu dengan berlandaskan kepada ambisi-ambisi politik sesaat, kepentingan-kepentingan pribadi yang tidak mendasar dan bukan didasari atas semangat profesionalisme dan tanggung jawab.

Menurut hemat saya, organisasi kemahasiswaan kita di India ini sedang dilanda oleh musibah besar, yaitu krisis figur atau krisis kepemimpinan. Sedangkan krisis-krisis yang lain, seperti krisis keuangan, krisis kegiatan, krisis silaturrahmi, semuanya itu berpunca dari krisis kepemimpinan itu tadi. Kalaulah organisasi kemahasiswaan di India ini memiliki figur pemimpin yang visioner, memiliki semangat kerja profesionalisme yang mantap, peka terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh organisasi itu sendiri (problematika internal) dan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan dunia luar (problematika eksternal), maka krisis-krisis yang lain itu akan mudah untuk diatasi.

Sekarang muncul pertanyaan, mengapa kita dihadapkan pada krisis kepemimpinan? Karena kita sedang diuji oleh Allah SWT, dan tentu saja ujian ini merupakan salah satu bukti bahwa Allah SWT masih sayang dan cinta kepada kita semua. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Innallaha idza ahabba ‘abdan ibtala-a.” Artinya, “Sesungguhnya Allah SWT, jika mencinta hambaNya, diujiNya hambaNya itu.”

Disini Allah SWT akan melihat apakah kita sabar dan bisa sukses dalam menghadapi ujian ini? Kalaulah kita sabar dan sukses dalam ujian ini, tentu saja kita akan naik tingkat atau naik ke derajat yang lebih tinggi. Sabar disini berarti kita benar-benar mampu menemukan figur-figur pemimpin ideal yang akan menjamin kesuksesan bagi masa depan organisasi kemahasiswaan kita. Untuk itu, hendaknya kita memilih calon-calon pemimpin itu bukan atas dasar nafsu belaka, tapi harus benar-benar berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh calon yang kita pilih itu.

Seperti apakah pemimpin yang ideal itu? Saya ingin mengajak pembaca untuk meneropong ritual ibadah sholat berjamaah sesaat saja. Di dalam sholat berjamaah, ada yang disebut dengan imam (pemimpin) dan ada pula yang disebut dengan makmum (jamaah atau rakyat). Dan dalam sholat berjamaah ini, fiqh (undang-undang hukum Islam) tak pernah mempertanyakan siapa yang jadi makmum. Siapa saja boleh jadi makmum, tapi fiqh sangat ketat dalam memilih imam. Dalam konteks organisasi kemahasiswaan kita, siapa saja boleh jadi anggota, tapi tidak sama halnya untuk menjadi seorang pemimpin organisasi ini.

Kata fiqh, seorang imam itu haruslah orang yang paling ‘alim (pandai) diantara kamu, ini syarat yang pertama. Imam itu haruslah orang yang betul-betul paham dan mengerti agama, terutama mengenai sholat. Begitu pula dalam sebuah organisasi, hendaknya seorang pemimpin itu adalah orang yang tahu problematika internal organisasi dan problematika eksternal yang sedang dihadapi oleh rakyat dan dunia luar serta tahu pula mencari jalan keluar untuk menyelesaikan problematika-problematika tersebut.

Syarat kedua, kata fiqh, seorang imam itu haruslah memiliki bacaan yang bagus dan indah. Imam tidak boleh orang belo. Didalam sebuah organisasi, ini dapat kita artikan bahwa seorang pemimpin itu hendaknya memiliki kemampuan orasi yang cantik, kemampuan untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan dan aspirasi-aspirasi anggota dan masyarakat ramai. Itu sebabnya seorang pemimpin dituntut untuk memiliki sense of politics yang kuat terhadap anggota yang dipimpinnya.

Apabila dua ciri pemimpin ideal diatas ditemukan pada banyak figur, maka syarat untuk menjadi imam yang ketiga, kata fiqh, hendaklah kamu memilih orang yang lebih tua umurnya. Jika kita komparasikan syarat untuk menjadi imam yang ketiga ini dengan seorang pemimpin organisasi, maka hendaknya kita utamakan yang lebih senior (dari segi usia) untuk menduduki jabatan pemimpin itu.

Kalau tiga ciri pemimpin ideal diatas ada pada beberapa orang figur atau calon, maka syarat keempat untuk menjadi imam itu, kata fiqh, hendaklah kamu memilih orang yang paling dulu atau paling lama tinggal di daerah itu. Bila kita kembali membandingkan syarat keempat ini dengan ciri pemimpin ideal untuk sebuah organisasi, maka hendaklah kita memilih orang yang paling lama tinggal di India ini.

Apabila kita sudah menemukan pemimpin ideal yang pada dirinya ditemukan syarat-syarat yang disebutkan diatas, maka selanjutnya seorang pemimpin ideal itu hendaklah: Pertama, memiliki jiwa yang lapang, terutama dalam menerima perbedaan pendapat, teguran dan kritikan. Jika anda adalah pemimpin yang ideal, maka anda harus berani untuk menerima masukan, berani untuk introspeksi diri, tahu diri ketika ditegur dan berani untuk memperbaiki kinerja anda ketika dikritisi. Seorang pemimpin ideal tak perlu mengkambinghitamkan orang lain bila kepemimpinan dan kinerjanya ditegur dan dikritisi oleh orang lain.

Rasululullah SAW pernah mengatakan, “Thuba liman syagholahu ‘aibuhu ‘an ‘uyubinnaas.” Artinya, “Beruntunglah orang-orang yang karena kekurangan pada dirinya, membuat ia lupa pada kekurangan-kekurangan yang ada pada diri orang lain.” Untuk itu, sekali lagi saya katakan, lebih baik memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada kepemimpinan dan kinerja anda daripada sibuk menyalahkan orang lain. Dan kita sebagai anggota juga jauh lebih baik memperbaiki kinerja dan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita daripada sibuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan yang terdapat pada diri orang lain.

Kedua, pemimpin ideal itu hendaknya memiliki visi yang jauh ke depan dan semangat kerja profesionalisme yang tinggi. Seorang pemimpin ideal harus tahu kemana arah dan haluan organisasi yang sedang ia pimpin itu harus dibawa. Bila dalam menentukan arah dan haluan organisasi ini muncul perbedaan pendapat antara para elit organisasi, maka disinilah seorang pemimpin ideal itu harus mampu memperlihatkan semangat profesionalismenya.

Semangat profesionalisme ini diperlihatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya, “Fa-idzaa ikhtalaftum fa’alaikum bish-showatil a’zhom ma’al haqqie wa ahlihi.” Artinya, “Apabila kamu berbeda pendapat, maka ikutilah suara yang terbanyak dan disampaikan oleh ahlinya.” Disini, seorang pemimpin ideal dituntut untuk memutuskan suatu perkara itu secara professional. Bila terjadi perbedaan pendapat, maka ikutilah suara yang terbanyak, dan tentu saja suara yang terbanyak itu disampaikan oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Pemimpin ideal bukanlah pemimpin yang memaksakan kehendak sesuka hati-perutnya saja kepada para anggota atau rakyat yang dipimpinnya.

Ketiga, semangat silaturrahmi harus dimiliki oleh pemimpin ideal. Dengan bersilaturrahmi, pemimpin tersebut akan mengetahui secara langsung kondisi sebenarnya yang dihadapi oleh anggota atau rakyatnya. Pemimpin yang tidak memiliki semangat silaturrahmi atau kurang pergaulan, -associateless, dalam bahasa Melayunya- hanyalah akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang sok tahu dan sok perhatian terhadap orang lain. Rasulullah SAW mengingatkan, “’Alaika biljama’ah fa-innama yakkulu ad-dzikbu minal ghanamil ghasiyah.” Artinya, “Hendaklah kamu tetap berjamaah (menjaga silaturrahmi), karena sesungguhnya srigala hanya akan memangsa domba yang bercerai dari kelompoknya.”

Pemimpin yang associateless hanyalah akan menjadi mangsa perasaannya sendiri dikarenakan minimnya semangat bersilaturrahmi yang ada pada dirinya itu. Setidaknya ia akan merasa bahwa jabatan pemimpin yang disandangnya tersebut hanya terasa sebagai beban belaka dalam hidupnya. Ia tak mampu menjadikan jabatannya sebagai pemimpin itu untuk berbuat yang terbaik dan berbuat lebih banyak lagi demi kemajuan organisasi yang dipimpinnya.

Keempat, pemimpin ideal dituntut untuk memiliki sikap gotong-royong dalam kebersamaan dan toleransi dalam perbedaan. Kerjasama yang kokoh antara pemimpin dengan yang dipimpin merupakan modal dasar dalam menyukseskan segala program kerja-program kerja organisasi. Sebuah organisasi juga tidak akan berjalan sempurna bila pemimpinnya bekerja sendiri dan tidak dibantu oleh pengurus (para elit) organisasi itu sendiri. Oleh karena itu, pemimpin ideal tak perlu cepat naik pitam atau naik darah bila melihat wajah-wajah yang berseberangan pendapat dengannya, karena itu hanyalah merupakan ciri seorang pemimpin yang cengeng. Disinilah tempatnya seorang pemimpin ideal itu harus mengembangkan sikap toleransi dalam menghadapi perbedaan.

Tak terasa begitu cepat waktu berlalu, dan saya harus segera mengakhiri untaian-untaian kalimat ini. Saya berpesan kepada diri saya pribadi dan para pembaca untuk senantiasa memperkuat sandaran vertikal kita kepada Allah SWT sebagai bukti bahwa kita bukanlah bangsa yang sombong, bangsa yang sudah tidak memerlukan bantuan dan pertolonganNya dalam menemukan pemimpin-pemimpin ideal untuk organisasi kemahasiswaan kita. Kita juga bukan bangsa yang berjiwa "agar-agar" yang mudah goyah dan terombang-ambing diterpa oleh badai dan krisis yang berkesinambungan. Kita bukan pula bangsa yang seperti ayam kena sampar, la yahya wa la yamutu, hidup segan mati tak mau.

Kita mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di India ini adalah singa-singa tidur yang harus segera dibangunkan. Jiwa-jiwa kemahasiswaan kita yang sedang mengalami mati suri harus segera dihidupkan kembali. Dengan semangat optimisme yang tinggi, bersama kita berlayar menuju Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India yang cemerlang di masa depan. Karena itu, hiduplah dan bangunlah wahai singa-singa yang mati suri. Menariknya, ketika saya akan menyudahi risalah ini, alfibret saya berdering kembali dan ketika saya angkat, terdengar suara Nidya menyapa dan mau curhat seperti biasa, “Kak, Nidya bingung nih, mau memilih siapa?” Sayapun berpesan kepada Nidya, “Pilihlah yang ideal buat neng. Dan pilihan neng itukan hanya ada dua, kalau nggak mas Sa’i, ya kakak.” []

Zamhasari Jamil, Pelajar Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, Aligarh, India; Asal Riau.

Sumber : http://e-tafakkur.blogspot.com/2006/06/memilih-pemimpin-yang-ideal.html

Berbicara dengan Hati, Bukan Jari

0 comments
“Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.”
– Eric Schmidt, CEO Google

ADIL jengkel betul dengan istrinya. Sepanjang liburan akhir pekan keduanya sepakat memilih beristirahat di rumah. Lima hari bekerja membuat mereka ingin melemaskan otot-otot. Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka berdua. Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah. Buah hati yang menjadi dambaan mereka tak kunjung datang. Mungkin Yang Di Atas belum memberikan mereka kepercayaan. Begitu keduanya menghibur diri.

Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan. Seharian Anita, sang istri, hanya berada di kamar. Mungkin saja letih. Dia ingin istirahat penuh. Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget kesayangannya. Anita kadang tertawa sendiri. Sampai kadang dia tak ingin jauh dari colokan listriknya. Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga, sehingga terpaksa harus dicharge.

Adil geleng-geleng kepala. Namun Anita cuek bebek. Katanya, dia sedang asyik mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya. Bertemu di jejaring sosial facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN. Lalu itulah yang terjadi, mereka mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati. Adil pun memilih untuk keluar rumah dan mengobrol dengan tetangga.

Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga. Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap. Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial. Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah, ‘mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.’

Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Contohnya, ya itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman. Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat, maka menurut anak zaman sekarang dikatakan terkena ‘gejala autis’. Tapi bukankah merujuk peribahasa, ‘man behind the gun’, bahwa baik-buruknya penggunaan teknologi tergantung si pemakainya? Betul. Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah. Sebaliknya pun demikian.

Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget. Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa. Hingga muncul istilah, ‘it is heaven for business owners, but hell for employees’.

Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia.

Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.

Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.” Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain.

Itulah yang dirasakan Adil sekarang. Ia merasa jauh sekali dari istrinya. Adil sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita. Adil hanya ingin Anita menghentikan sekali saja pada saat mereka berada di rumah. Apalagi disaat-saat mereka sedang berdua atau liburan. Baginya komunikasi yang baik bukan lagi semata dengan jari-jari, walau teknologi sudah maju. Berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri.

Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak dari kegaduhan dunia virtual dan kembali pada ‘habitatnya’ sebagai makhluk sosial.

Sumber: Sonny Wibisono, penulis buku ‘Message of Monday’, PT Elex Media Komputindo, 2009

Kamis, 20 Januari 2011

5 Tips Oke Menjadi Pemimpin yang Berkarakter Kuat

0 comments
SUNGGUH menyenangkan rasanya bila berada di posisi puncak dalam sebuah perusahaan. Memang bukan sebuah hal yang mudah dan bisa diperoleh dalam waktu sekejap, tetapi butuh banyak perjuangan dan kerja keras yang harus dilewati.

Seperti yang dilansir dari career builder, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan terlebih dahulu sebelum menuju posisi puncak. Apa saja?

Bisa mengatasi seluruh risiko dari permasalahan yang ada di kantor

Orang yang ingin maju cenderung lebih berani untuk mengambil risiko dan menekannya sekecil mungkin. Jika Anda bisa melewati tahap ini, tentunya banyak pihak yang akan mengagumi kemampuan Anda.

Keahlian berbisnis

Setiap orang memang memiliki keahlian yang berbeda-beda, jika Anda termasuk salah satu orang yang memiliki keahlian lebih dalam berbisnis, tentunya keahlian Anda akan diperhitungkan oleh perusahaan.

Menjadi motivator

Seorang motivator adalah orang yang memberikan motivasi kepada anak buahnya untuk selalu bisa mencari ide-ide baru yang menarik dan tidak patah semangat dalam bekerja. Bukan menjadi hal mudah untuk menjadi seorang motivator karena setiap tidak tanduk Anda pasti dicontoh oleh anak buah. Jika Anda ingin menjadi sang motivator, belajarlah terlebih dahulu untuk memotivasi diri sendiri.

Stamina yang selalu terjaga

Bekerja atau menghasilkan sebuah ide cemerlang tentunya banyak menguras tenaga. Ketika tenaga dan staminamu menurun, tentunya ini akan berhubungan dengan kinerjamu. Karena itu, tetaplah menjaga stamina dan jangan biarkan staminamu berkurang agar kamu bisa menghasilkan kembali ide-ide yang cemerlang.

Mengambil keputusan yang tepat

Dalam mengambil keputusan yang tepat tentunya banyak yang harus kamu perhatikan. Selain itu banyak juga masukan yang harus kamu tampung. Untuk itu, hal yang pertama harus kamu lakukan adalah, fokus terhadap permasalahannya dan mulailah berpikir jernih dan pikirkan risiko yang harus kamu hadapi. Jangan sampai keputusanmu merugikan banyak pihak.

Sumber : http://tipsoke.com/5-tips-oke-menjadi-pemimpin-berkarakter-kuat.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...